Fenomena Hujan Meteor Draconid, Tokoh Agama Tanjungpinang Ingatkan Umat Islam Selalu Tafakur

Katakepri. com, Tanjungpinang – Muhammad Supeno salah seorang tokoh Agama Islam di Kota Tanjungpinang mengingatkan umat muslim yang ada di Kota itu untuk selalu tafakur jika melihat fenomena alam terjadi disekitar kita.

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan adanya fenomena hujan meteor Draconid yang terjadi beberapa hari ini.

“Sebagaimana muslim yang beriman, kita hendaknya memandang fenomena hujan meteor ini sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadikannya bahan pemikiran dan petunjuk,” ucapnya.

Kepada muslim di Kota itu, ia berpesan untuk tidak mengkait-kaitkan fenomena ini dengan hal-hal yang bebau syirik (menduakan Allah), seperti meminta suatu permohonan ataupun mengkait-kaitkannya dengan kematian.

Meski demikian, Ustadz yang dikenal dermawan ini tetap membolehkan umat muslim untuk melihat dan mengabadikan fenomena tersebut.

“Karena sesungguhnya sebuah kematian, rezeki dan kiamat itu sudah haknya Allah, tidak bisa dimundurkan dan dimajukan,” tuturnya.

Tak lupa, Direktur Pondok Pesantren Al-Kautsar yang juga Pengurus Nahdatul Ulama (NU) Kota Tanjungpinang ini menyarankan mereka yang sengaja maupun tidak melihat fenomena ini untuk beristigfar memohon ampun kepada Allah.

Dikutip dari kompas.com, puncak fenomena hujan meteor Draconid ini dapat disaksikan dilangit mulai Jumat hingga Minggu 10 Oktober 2021 ini.

(Tokoh Agama yang Juga Direktur Pondok Pesantren Al-Kautsar Tanjungpinang, Muhammad Supeno)

Hujan meteor ini dinamai Draconid karena titik radian atau titik asal munculnya hujan meteor terletak di konstelasi Draco.

Hujan meteor Draconid ini sendiri berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun sekali.

Oleh karenanya, hujan meteor ini dikenal juga dengan nama Giancobinid.

Peneliti di Pusat Riset Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) BRIN, Andi Pangerang mengatakan, hujan meteor yang satu ini pernah menjadi hujan meteor spektakuler sepanjang sejarah.

“Meskipun hujan meteor ini sempat menjadi hujan meteor spektakuler sepanjang sejarah, sebagian besar pengamat langit menganggapnya sebagai salah satu hujan meteor yang kurang begitu menarik disaksikan,” kata Andi.

Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak awal senja bahari selama 3 jam dari arah utara-barat laut hingga barat laut dengan intensitas antara 4-6 meteor per jam jika cuaca cerah dan bebas polusi cahaya.

Akan tetapi, bagi pengamat di area perkotaan hanya akan menyaksikan antara 1-2 meteor per jam.

“Ketampakan hujan meteor Draconid terbaik jika diamati dari belahan Bumi Utara,” ujarnya. (Angga)