Kala Sri Berharap Wali

Katakepri.com, Tanjungpinang – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang hampir sebulan lamanya diterapkan pemerintah begitu berdampak pada kehidupan masyarakat di Kota Tanjungpinang.

Salah satunya Sri Rejeki 38 tahun seorang buruh cuci di Tanjungpinang yang tak lagi dipakai jasanya karena PPKM.

Diberhentikan dari pekerjaannya tak lantas membuat Sri patah semangat.

(keseharian Sri Rezeki memulung demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, semenjak berlakunya PPKM diberhentikan dari pekerjaannya sebagai buruh cuci)

Demi terus bisa melangsungkan hidup bersama satu orang anaknya, Sri terpaksa bekerja menjadi pemulung.

Sang suami telah lama pergi meninggalkan Sri dan anaknya tanpa alasan yang jelas.

“Sudah tiga tahun suami pergi entah kemana meninggal saya dan anak yang saat ini berumur 1 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan kami, saya bekerja disalah satu rumah menjadi tukang cuci pakaian.

Namun semenjak PPKM ini pemilik rumah takut dan lebih memilih mencuci sendiri dengan alasan lebih banyak dirumah. Dari situlah, saya mencoba beralih ke pekerjaan ini,” jelas Sri.

Ketika sore datang dan latihan paskibraka Tanjungpinang pun usai, Sri mulai mendatangi lokasi tempat para paskibraka itu latihan.

(Selama masa PPKM berlangsung Sri belum pernah mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun dari Pemerintah)

Sri datang dengan motor Vega-R usang membawa serta keranjang yang penuh dengan kardus dan barang-barang bekas lainnya.

Disana Sri memunguti sampah nasi kotak bekas paskibraka itu makan. Ada yang ia pungut ditempat sampah, dan ada pula yang ia pungut langsung dari tempat latihan.

Sebelum memindahkannya ke keranjang yang ia bawa dimotornya, Sri terlebih dahulu memisahkan kotak dari sisa-sisa makanan kedalam kantong.

“Kotak-kotak ini nantinya saya kumpulkan dulu, sudah banyak baru saya jual,” tutur Sri.

Sesekali Sri berhenti untuk membetulkan jilbab dan mengusap wajahnya yang penuh keringat.

Sebagian anggota paskibraka yang masih berada disana kelihatan tak asing dengan kehadiran Sri. Beberapa dari mereka, seakan hafal jadwal kedatangan Sri.

(Tampak dari kejauhan Sri ditemani motor usangnya sedang berjuang m ngais rezeki yang halal, yang kadang hasilnya hanya cukup untuk satu kali makan)

Bahkan, mereka sudah menyiapkan nasi kotak yang masih tersisa khusus untuk Sri.

Sri sendiri hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini. Dimana, pengasilannya menjual barang-barang bekas hasil mulung masih kurang karena hanya cukup untuk membeli makan sekali.

“Sebenarnya kalau dibilang terpaksa ya terpaksa karena tidak ada pekerjaaan lain, disamping itu juga penghasilan dari menjual barang-barang inipun tak menentu. Tapi disyukuri aja dari pada ngemis kan,” ucap Sri.

Selama mulung, anak Sri yang masih kecil ia titipkan ke tetangga sebelah rumahnya. Namun tak jarang Sri membawa serta anaknya ikut.

“Anak saat saya sedang bekerja kadang saya titip sama tetangga, kadang juga saya bawa,” kata Sri.

Mirisnya selama PPKM, Sri mengaku belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

“Selama ini bantuan dari pemerintah tidak ada, paling dermawan-dermawan saja ketika melihat saya bekerja kadang memberi nasi atupun uang,” ucapnya. (Angga)