Penulis : Zainal Takdir,S.Sos
Di dunia politik, tidak semua pemimpin lahir dari pidato yang berapi-api. Ada yang tumbuh perlahan, dari cara ia mendengar rakyat, dari kesediaannya turun ke lapangan, dan dari ketekunannya menjaga hubungan di tengah riuh kepentingan. Sosok Aneng adalah salah satu di antaranya.
Banyak orang mengenalnya bukan sebagai tokoh yang gemar membuat gaduh, melainkan pribadi yang bekerja tenang namun terasa. Di daerah kepulauan yang jauh dari hingar-bingar pusat kekuasaan, ia membangun kepercayaan sedikit demi sedikit. Sebab di tanah maritim seperti Kepulauan Riau, rakyat lebih mudah percaya pada kerja nyata dibanding sekadar slogan.
Namun perjalanan politik Aneng sesungguhnya bukan cerita yang baru dimulai kemarin sore. Ia sudah masuk ke Partai Demokrat sejak tahun 2002, pada masa awal partai itu tumbuh di daerah. Ketika itu Kepulauan Riau masih bergabung bersama Provinsi Riau, dan Ketua Umum Partai Demokrat masih dijabat oleh Subur Budhisantoso.
Dari masa-masa awal itulah Aneng mulai membangun pengabdiannya di partai. Ia memulai langkah sebagai Ketua DPC setelah terbentuknya Kabupaten Karimun. Bukan jalan yang instan, sebab pada masa itu Demokrat masih merintis kekuatan politiknya di daerah-daerah kepulauan. Tetapi Aneng tetap bertahan, tumbuh bersama dinamika partai, hingga beberapa tahun kemudian dipercaya menjadi Bendahara DPD Demokrat Kepri.
Perjalanan panjang itu membuat Aneng memahami satu hal penting: partai tidak dibangun hanya ketika sedang kuat, tetapi justru diuji ketika berada dalam masa sulit. Karena itu, ketika wacana tentang kepemimpinan DPD Partai Demokrat Kepulauan Riau kembali mengemuka, nama Aneng menjadi salah satu yang paling layak untuk tetap melanjutkan estafet kepemimpinan. Bukan semata karena jabatan yang ia sandang hari ini, tetapi karena ia telah memahami denyut politik Kepulauan Riau dengan cara yang lebih membumi.
Apalagi Aneng bukan kader yang hadir tiba-tiba ketika partai sedang nyaman. Ia adalah kader lama yang pernah berada di masa sulit partai. Saat kisruh perebutan kepemimpinan yang sempat mengguncang lingkaran DPD Demokrat Kepri pada tahun 2022, banyak kader memilih menunggu arah angin. Namun Aneng justru maju dengan niat sederhana: menyelamatkan partai agar tidak semakin terpecah.
Di tengah situasi yang panas saat itu, langkahnya bukan tentang ambisi pribadi ataupun perebutan kekuasaan semata. Ia memahami bahwa partai yang terus dilanda konflik akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Maka yang dibutuhkan bukan sekadar figur populer, tetapi seseorang yang mampu menenangkan keadaan dan menjaga rumah besar Demokrat tetap berdiri.
Kepercayaan itu akhirnya datang dari pusat partai. Pada tahun 2023, Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang menetapkan Aneng sebagai Ketua DPD Demokrat Kepri. Keputusan itu bukan sekadar urusan administratif organisasi, melainkan bentuk keyakinan bahwa Aneng dinilai mampu menjadi teraju dan nahkoda Demokrat Kepri ke depan.
Barangkali, di mata AHY, Aneng bukan hanya dilihat dari kemampuan politik semata, tetapi juga dari ketekunan dan kesetiaannya menjaga partai sejak masa-masa awal. Sebab tidak semua kader mampu bertahan dalam badai, dan tidak semua pemimpin sanggup merawat partai dengan kesabaran yang panjang. Ada kepercayaan yang tumbuh dari proses, dari perjalanan, dan dari kesediaan untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak selalu mudah.
Dan kepercayaan itu kemudian dijawab Aneng dengan kerja nyata. Pada Pilkada 2024, ia membuktikan dirinya mampu memenangkan hati masyarakat dan terpilih menjadi Bupati Kepulauan Anambas. Kemenangan itu menjadi penanda bahwa kepemimpinan yang tenang dan membumi tetap memiliki tempat di hati rakyat.
Dari titik itulah, banyak kader mulai melihat kepemimpinan Aneng bukan lahir karena dorongan sesaat, melainkan karena rasa tanggung jawab terhadap partai yang telah lama ia perjuangkan.
Kepri sendiri bukan daerah yang mudah dipimpin secara politik. Wilayahnya tercerai oleh laut, karakternya beragam, dan kepentingannya sering kali berbeda antara satu pulau dengan pulau lainnya. Dalam situasi seperti itu, seorang ketua partai tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia harus mampu menjadi jembatan, merawat komunikasi, dan menjaga rumah besar partai tetap teduh bagi semua kader.
Di titik itu, Aneng memiliki modal yang tidak sedikit. Ia datang dari wilayah perbatasan, dari daerah yang sering dianggap jauh dari pusat perhatian. Tetapi justru dari sana ia mengerti arti perjuangan politik yang sesungguhnya: tentang bagaimana mendengar suara yang kerap luput didengar.
Demokrat Kepri ke depan tentu membutuhkan sosok yang bukan hanya mampu menjaga eksistensi partai, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi kader-kader muda. Politik hari ini tidak lagi bisa dibangun hanya dengan kekuatan elit. Ia membutuhkan kedekatan emosional dengan masyarakat, membutuhkan figur yang mampu membuat partai terasa dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari.
Aneng punya kesempatan itu. Ia membawa karakter kepemimpinan yang tidak meledak-ledak, tetapi perlahan mengakar. Dan sering kali, politik daerah justru membutuhkan pemimpin seperti itu: tenang, tidak gemar menciptakan konflik, namun tetap mampu menjaga arah perjuangan.
Melanjutkan kepemimpinan di DPD Demokrat Kepri bukan hanya soal mempertahankan kursi ketua. Ini tentang menjaga kesinambungan. Sebab sebuah partai akan sulit tumbuh jika terlalu sering berganti arah dan kehilangan pijakan. Demokrat membutuhkan stabilitas, terutama menghadapi dinamika politik Kepri yang terus berubah.
Di tengah situasi politik yang kadang terasa bising oleh ambisi pribadi, masyarakat sesungguhnya merindukan pemimpin yang bekerja tanpa terlalu banyak kegaduhan. Dan mungkin, itulah alasan mengapa nama Aneng masih dianggap relevan untuk melanjutkan kepemimpinan Demokrat Kepri.
Sebab kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling mampu menjaga harapan tetap menyala. (*)






