Katakepri.com, Tanjungpinang – Pantun lahir jauh sebelum tinta mengenal kertas, sebelum aksara disusun rapi dalam buku-buku sejarah. Ia tumbuh dari lisan orang-orang tua di rumah-rumah panggung, dari sampan yang berayun di laut, dari semak dan hutan, dari denyut kehidupan masyarakat Melayu dan Nusantara.
Di masa lalu, pantun bukan sekadar rangkai kata berima ia adalah cara berpikir, cara menasihati tanpa menggurui, cara menegur tanpa melukai. Pantun menjadi cermin adat, penyangga akhlak, dan jembatan antar generasi ke generasi.
Dalam setiap sampiran tersimpan alam, dalam setiap isi berdiam nilai. Pantun mengajarkan kesantunan bahasa, ketajaman rasa, dan kedalaman makna. Ia hadir dalam upacara adat, pernikahan, permainan anak-anak, hingga musyawarah para pemangku adat. Pantun masa lalu adalah denyut kebudayaan yang hidup, akrab, dan menyatu dengan keseharian.
Memasuki masa kini, pantun menghadapi zaman yang bergerak cepat. Dunia digital, media sosial, dan budaya instan kerap membuat kata-kata kehilangan kedalaman. Namun pantun tidak mati. Ia hanya berganti medan. Pantun kini hadir di panggung-panggung seni, di sekolah, di festival budaya, bahkan di ruang virtual. Ia dilantunkan oleh seniman, ditulis ulang oleh generasi muda, dipertandingkan, dan dihidupkan kembali sebagai identitas kultural.
Pengakuan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO bukanlah titik akhir, melainkan pengingat: bahwa pantun adalah milik dunia, namun akarnya tetap berpijak pada tanah asalnya. Tantangan masa kini bukan sekadar melestarikan bentuk, tetapi menjaga ruh, agar pantun tidak hanya indah didengar, tetapi juga tetap bernilai dalam isi.
Lalu bagaimana pantun di masa depan? Pantun masa depan adalah pantun yang berani berdialog dengan zaman tanpa kehilangan jati diri. Ia hidup di kelas-kelas pendidikan sebagai metode pembelajaran karakter. Ia tumbuh di ruang digital sebagai konten yang mencerdaskan, bukan sekadar viral. Ia menjadi bahasa diplomasi budaya, alat pemersatu di tengah keberagaman, dan penanda bahwa bangsa ini masih menghargai kearifan lisan yaitu pantun.
Pantun masa depan bergantung pada kita hari ini: apakah kita sekadar mengaguminya sebagai warisan, atau benar-benar merawatnya sebagai kehidupan. Sebab pantun bukan benda mati untuk disimpan di etalase sejarah, melainkan api kecil yang harus terus dijaga agar tidak padam.
Pada Hari Pantun Dunia, 17 Desember 2025, kita tidak hanya merayakan pantun sebagai karya sastra, tetapi sebagai jalan pulang, kepada akar budaya, kepada kebijaksanaan leluhur, dan kepada harapan bahwa kata-kata yang santun masih mampu menyelamatkan dunia.
Penulis
Zainal Takdir,S.Sos






