Di Museum Ini Tersimpan Senjata Pejuang Melayu Melawan Penjajah

Katakepri.com, Tanjungpinang – Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu bahwa tersimpan sejumlah senjata pejuang melayu di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Jl. Ketapang, Kelurahan Kamboja, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang ini.

Informasi sekilas dari Kepala Museum, Ivan Kurniawan, senjata-senjata ini diketahui merupakan milik masyarakat yang notabennya pejuang Melayu untuk melawan penjajah pada zamannya.

Karena saat ini masih dalam suasana hari Pahlawan, awak media ini mencoba mengulas kembali nama, kegunaan dan latar belakang senjata-senjata penjuang Melayu yang menjadi koleksi Museum Kota Gurindam tersebut.

1. Pedang Melayu

Berdasarkan sejarah, pedang Melayu ini sudah dikenal masyarakat sejak masuknya pengaruh Islam ke tanah Melayu.

Dalam perjalanannya ke tanah Melayu, para saudagar Arab sering membawa pedang guna menyerang dan mempertahankan diri dari serangan lawan. Bentuk semula pedang dari Arab ini melengkung.

Pada masa kolonial Belanda, para opsir negeri Belanda ini juga membawa-bawa pedang ditangannya guna menyerang dan menakut-nakuti masyarakat Melayu.

Karena makin banyak pedang yang beredar ditanah Melayu, maka masyarakat mengetahui bahwa senjata ini merupakan salah satu senjata untuk menyerang.

Dalam perkembangannya, masyarakat Melayu menggubah bentuk pedang Arab dan Belanda ini.

Ditangan pandai besi Melayu pedang tersebut diubah dan dibuat ulang dengan bentuk yang lebih sederhana, pipih dan sengat tajam.

Pedang-pedang ini sendiri dikenal dengan nama Pedang Besi Gagang Gading 1 dan Pedang Besi Gagang Gading 2 yang masing-masingnya mempunyai ciri khas tersendiri.

  1. Pedang Gagang Gading (1).

Bilah pedang berbentuk pipih dan ujungnya runcing, pada permukaan bilah pedang ini terdapat motif hias ular naga dan tulisan yang ditulis dengan menggunakan aksara China.

  1. Pedang Gagang Gading (2).

Bilah pedang berbentuk pipih dan ujungnya runcing. Hulu atau tangkal terbuat dari gading dengan bagian ujungnya berbentuk kepala burung yang terbuat dari besi dan pangkalnya juga tersambung dengan motif dekoratif.

Sarung pedang terbuat dari kuningan yang mana salah satu sisinya terdapat ukuran ular naga gometris dan bunga.

2. Keris

Keris adalah senjata sekaligus karya seni yang bernilai tinggi. Fungsi keris mengalami perubahan, dari yang semula sebagai senjata kemudian berubah menjadi benda keramat, lambang yang dipuja, ikatan cinta, tanda jasa, tanda pangkat atau jabatan serta barang seni dan cendra mata.

Sebagai artifak budaya, keris adalah warisan khas kebudayaan Nusantara dan juga Melayu. Penggunaan keris sendiri tersebar dimasyarakat rumpun Melayu.

Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke – 9. Kuat kemungkinannya keris telah digunakan sebelum masa tersebut.

Keris sudah digunakan orang Melayu sejak zaman pemerintahan Kesultanan Melayu, lebih dari 800 tahun yang lalu terutamanya dikalangan pendekar, pahlawan serta pembesar istana.

Keris juga merupakan salah satu alat kebesaran bagi raja-raja atau lambang kedaulatan/kekuasaan.

Sejarah keris Melayu mempunyai cerita yang panjang. Bisa dikatakn permulaanya dari Tanah Jawa. Sang Guna adalah orang pertama dizaman Sultan Muhammad Syah Malaka yang telah membuat keris tempa panjang, berukuran tiga jengkal. Unsur logam campuran besi dan pecahan meteorid merupakan bahan utama pembuatan keris tersebut.

Keris Melayu sendiri mempunyai ciri-ciri dua belah mata, melebar di pangkal dan tirus diujungnya serta tajam.

3. Tombak Melayu

Disamping keris dan pedang, tombak juga merupakan senjata tradisional yang banyak dimiliki oleh masyarakat Melayu. Tombak serupa seperti lembing cuman memang panjangnya lebih panjang dari batang lembing.

Tombak ini sendiri kebanyakan digunakan oleh pengawal-pengawal dan pegawai-pegawai istana serta sebagianya ada yang dijadikan alat kebesaran.

Dimasanya, tombak ini tidak hanya dipakai untuk menyerang musuh dan penjajah, namun juga dipakai untuk berburu binatang. (Red*)