Perizinan Berbelit, Dua Investor AS Batal Investasi di Kepri

Katakepri.com, Tanjungpinang – Izin usaha yang masih berbelit-belit membuat Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Riau Bobby Jayanto angkat bicara.

Boby menyayangkan batalnya dua investor asal Amerika Serikat berinvestasi di Kepri baru-baru ini.

Padahal, kata politisi Nasdem ini, investor tersebut merupakan perusahaan ternama dan cukup dikenal dunia.

Sayangnya karena tidak ada kepastian akhirnya investor dari negeri Paman Sam itu enggan dan beralih ke negara tetangga, yakni Singapura.

“Meski mereka lebih berminat berinvestasi di Indonesia, khususnya Kepri. Akibat tidak ada kepastian soal izin akhirnya mereka beralih ke Singapore, dan ini sangat kita sayangkan,” ujar Bobby saat ditemui di ruang kerjanya, Kantor DPRD Kepri di Dompak, pada hari Senin (27/9) kemarin

Bobby yang enggan menyebutkan dua perusahaan itu, menjelaskan bahwa Investor yang tidak bisa diremehkan ini telah berminat dan menunggu kepastian dari pemerintah.

“Seharusnya Pejabat daerah yang dapat menjembatani kebutuhan investor. Untuk kebutuhan lahan, kami sudah melakukan survei di Batam dan Tanjungpinang. Akhirnya batal dikarenakan aturan yang berbelit dan pemerintah daerah tidak ada kepastian,” tegasnya.

Disamping itu, Bobby juga menyinggung tentang adanya Undang-undang Cipta Kerja yang meringankan langkah pengusaha dalam berinvestasi di Indonesia.

Makanya, pemerintah baik pusat dan daerah harus lebih fleksibel. Mengingat, keuntungan untuk pendapatan daerah akan meningkat

“Selain akan mendapatkan keuntungan bagi daerah, penyerapan tenaga kerja cukup signifikan dengan kehadiran dua investor Amerika tersebut. Apalagi ditengah Pandemi Covid-19 yang melanda ini, masyarakat akan terbantu,” tambahnya.

Oleh sebab itu, Bobby berharap pemerintah dan stakeholder harus ada terobosan yang nyata dan memangkas peraturan yang berbelit.

“Good Will, jemput bola lah, bisa menjembatani dan memberikan kemudahan,” ucapnya.

Selain itu, Bobby juga menyebut bahwa banyaknya kepala daerah dan pemerintah menyatakan akan adanya investasi yang masuk.

“Nyatanya dapat kita lihat sendiri saat ini. Jadi jangan omong doang adanya investasi dari sana sini, tapi kosong dan menjadikannya sebagai propoganda politik,” pungkas Boby. (Angga)