Katakepri.com, Tanjungpinang – Pejuang Marwah Kota Tanjungpinang menggelar pertemuan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungpinang, di Hotel Halim, Kamis (03/09) malam.
Pertemuan bersama MUI ini merupakan bagian dari langkah Pejuang Marwah Kota Tanjungpinang dalam menyikapi dugaan skandal yang menyeret nama Walikota Tanjungpinang, Rahma.
Setelah sebelumnya Pejuang Marwah Kota Tanjungpinang juga menggelar petemuan bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Tanjungpinang dalam rangka koordinasi meminta pandangan untuk menempuh langkah selanjutnya.
Jusri Sabri selaku koordinator Pejuang Marwah Kota Tanjungpinang mengatakan, setelah selesai mendapatkan pandangan dari LAM dan MUI Kota Tanjungpinang ini selanjutnya ia beserta kawan-kawan akan meminta saran dan masukan dari aparat penegak hukum.
“Berangkat dari pandangan LAM dan MUI ini kita akan ke pihak penegak hukum dalam hal ini Polres Tanjungpinang guna menanyakan aspek hukumnya,” kata Jusri.
Jusri sendiri menyebut jika langkah yang ia dan kawan-kawan lakukan ini bukan untuk mencari-cari kesalahan Walikota Rahma melainkan hanya mencari fakta kebenaran isu dugaan skandal Walikota yang saat ini cukup meresahkan.
“Kita tidak benci Walikota Rahma malahan kita sangat sayang dengan beliau, kita disini hanya ingin kebenaran isu dugaan ini terungkap karena isu ini kian hari kian meresahkan masyarakat,” ucap Jusri.
Jusri pribadi mengaku siap meminta maaf jikalau isu dugaan skandal Walikota itu ternyata tidak benar.
“Kalau isu dugaan skandal ini terungkap dan memang benar isu tersebut tidak benar maka saya bersedia meminta maaf,” ucap Jusri.
Untuk diketahui, Ketua LAM Kota Tanjungpinang, Wan Rafiwar pada pertemuan bersama Pejuang Marwah Kota Tanjungpinang dengan tegas mengatakan bahwa LAM selaku pemangku adat tidak memihak kepada siapapun.
LAM juga, kata dia, tetap mengedepankan praduga tak bersalah dan masih menunggu kebenaran isu dugaan skandal tersebut terungkap.
“Perlu diketahui kami LAM tetap mengedapankan isu tak bersalah dalam isu skandal ini, kami juga tidak memihak kepada siapapun dan masih menunggu kebenaran isu skandal tersebut,” ucap Wan Rafiwar.
Namun, jika isu skandal tersebut terbukti benar nantinya LAM tidak segan-segan untuk mengambil sikap sesuai ketentuan adat yang berlaku.
Wan Rafiwar sendiri saat ini meminta untuk tidak mengkait-kaitkan isu skandal ini dengan renovasi gedung LAM yang baru-baru ini dianggarkan Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang dengan angka Rp 700 juta itu.
“Jangan dikait-kaitkan karena kami meminta renovasi gedung LAM itu jauh-jauh hari sebelum Rahma menjadi Walikota,” kata dia.
Senada dengan LAM, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungpinang, Pauzi juga masih menunggu kebenaran isu dugaan skandal tersebut.
Meski begitu Pauzi sendiri mengucapkan terimakasih kepada Pejuang Marwah Kota Tanjungpinang yang peduli dengan kabar burung yang membuat resah masyarakat Tanjungpinang.
“Saya sebagai pemangku adat dalam hal ini agama di Kota Tanjungpinang tidak bisa berkata lebih karena secara bukti-bukti belum kita dapatkan. Kalau hanya sekedar informasi itu tidak ada suatu kekuatan hukumnya,” ucapnya.
MUI sendiri, kata dia, juga tidak akan tinggal diam jika isu skandal tersebut terbukti benar nantinya
“Jika terbukti benar kita akan melakukan perkumpulan bersama tokoh-tokoh untuk urung rembuk mencari jalan yang terbaik meskipun jalan terbaik itu pahit,” pungkasnya. (Angga)






