Jogja, Rumah Kedua yang Selalu Kita Rindukan

Oleh: Sebastian – Alumni UPN “Veteran” Yogyakarta Angkatan 2009

Ada kota yang hanya kita datangi, lalu kita lupakan. Tetapi ada juga kota yang kita tinggalkan, namun justru terus tinggal di dalam ingatan. Bagi saya, kota itu adalah Yogyakarta.

Sebagai anak Kepulauan Riau yang pernah mengenyam pendidikan di Jogja, kenangan tentang kota pelajar itu selalu hadir dengan rasa hangat. Jogja bukan sekadar tempat kuliah, tetapi ruang kehidupan yang membentuk cara berpikir, cara berteman, bahkan cara memandang dunia.

Setiap kali menyebut Jogja, yang terlintas pertama bukan hanya kampus atau ruang kelas, tetapi keramahan orang-orangnya. Kota ini seperti memiliki ritme kehidupan yang berbeda,lebih tenang, lebih ramah, dan terasa sangat manusiawi.

Di Jogja, kehidupan mahasiswa punya ceritanya sendiri. Banyak dari kenangan itu justru lahir dari tempat-tempat sederhana yang kini menjadi bagian dari nostalgia.

Siapa yang tidak ingat berjalan menyusuri Jalan Malioboro pada malam hari? Lampu-lampu jalan yang hangat, pedagang kaki lima, suara musik jalanan, hingga obrolan santai bersama teman yang kadang tak terasa berjam-jam lamanya. Malioboro bukan sekadar jalan, tetapi ruang pertemuan bagi mimpi, persahabatan, dan cerita masa muda.

Ada juga kenangan duduk santai di sekitar Kali Code. Terkadang hanya untuk nongkrong sambil berbagi cerita tentang tugas kuliah, organisasi, atau sekadar menertawakan kehidupan mahasiswa yang penuh perjuangan. Di tempat sederhana seperti itu, persahabatan justru terasa paling tulus.

Bagi pecinta buku, tentu ada cerita tentang numpang membaca buku di Shopping Center Yogyakarta yang berada di kawasan Malioboro. Rak-rak buku bekas yang penuh sejarah, aroma kertas lama, dan perasaan seperti menemukan harta karun setiap kali membuka halaman buku yang menarik.

Kalau ingin suasana yang lebih santai, banyak mahasiswa memilih berkumpul di Jalan Seturan. Di sana, malam terasa hidup dengan warung makan, kafe sederhana, dan obrolan panjang yang kadang baru selesai menjelang subuh.

Ada juga ritual malam yang hampir selalu menjadi pengalaman pertama mahasiswa Jogja ,bermain di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Duduk santai, menikmati suasana malam, mencoba berjalan melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup, atau sekadar menikmati lampu-lampu sepeda hias yang berkeliling di lapangan.

Ketika rasa rindu pantai datang, mahasiswa Jogja punya cara sederhana untuk mengobatinya. Naik motor bersama teman-teman menuju Pantai Parangtritis, menikmati debur ombak dan angin laut yang khas. Atau melanjutkan perjalanan lebih jauh menuju kawasan pantai di Wonosari yang terkenal dengan keindahan pantai-pantainya.

Dan tentu saja, ada pagi Jogja yang sulit dilupakan. Udara yang masih segar, langit yang jernih, dan dari kejauhan berdiri gagah Gunung Merapi yang seolah menjadi penjaga kota. Pemandangan itu sering menjadi pengingat bahwa Jogja memiliki keistimewaan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Jogja juga terkenal dengan orang-orangnya yang kreatif. Di kota ini, ide-ide seperti selalu punya tempat untuk tumbuh. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga di organisasi, komunitas, diskusi, dan berbagai aktivitas yang membentuk karakter.

Satu hal yang sangat terasa dari alumni Jogja adalah kekompakan. Baik yang pernah tinggal di asrama daerah maupun yang aktif di organisasi, rasa persaudaraan itu biasanya bertahan lama. Seolah-olah Jogja telah menanamkan satu nilai penting: kebersamaan.

Hal yang paling menarik justru terasa ketika kami kembali ke Kepulauan Riau. Setiap kali bertemu orang yang juga pernah kuliah di Jogja, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Meskipun sebelumnya tidak saling mengenal, rasanya seperti bertemu teman lama.

Cukup dengan satu kalimat sederhana:
“Dulu kuliah di Jogja juga?”

Percakapan biasanya langsung mengalir panjang. Mulai dari cerita kampus, kos-kosan, tempat makan favorit, hingga kenangan tentang suasana Jogja yang selalu dirindukan. Dari situ terasa bahwa ada ikatan emosional yang sama ikatan yang lahir dari pengalaman hidup di kota yang sama.

Kerinduan itulah yang akhirnya menemukan rumahnya dalam sebuah wadah bernama KAYA Kepri (Keluarga Alumni Yogyakarta Kepulauan Riau). Organisasi ini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak Kepri yang pernah menimba ilmu di Jogja, lintas kampus dan lintas angkatan.

Di dalam KAYA Kepri, nostalgia tentang Jogja tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan di tanah perantauan. Di sinilah kenangan tentang Malioboro, Kali Code, Seturan, Alun-Alun Kidul, hingga perjalanan ke pantai kembali hidup dalam obrolan penuh tawa.

Sebagai bentuk mempererat silaturahmi, KAYA Kepri akan menggelar Halal Bihalal sekaligus Temu Kangen Alumni Jogja yang akan dilaksanakan pada: Sabtu, 4 April 2026 bertempat di Gedung Muhammadiyah, Tanjungpinang.

Acara ini terbuka bagi seluruh alumni Jogja asal Kepulauan Riau, dari berbagai kampus dan berbagai angkatan.

Karena pada akhirnya, Jogja mungkin telah kita tinggalkan secara fisik. Tetapi kenangan tentang Jogja tidak pernah benar-benar pergi.

Dan mungkin benar kata banyak orang: Kita tidak pernah meninggalkan Jogja.
Jogjalah yang selalu tinggal di dalam hati kita. (*)