Islam Berkemajuan Menggema di Tanjungpinang : Saatnya Umat Berbenah dan Belajar Bekerja Sama

(Catatan dari Tabligh Akbar hingga Mimbar Jumat)

Oleh:
Hendri Safutra, S.Pd.I., MM
Komisioner Bawaslu Kota Tanjungpinang

Padatnya peserta yang hadir dalam Tabligh Akbar bertema “Islam Berkemajuan” yang ditaja oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, menjadi pemandangan yang menarik untuk dicermati.

Tabligh Akbar tersebut menghadirkan narasumber Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Dr. H. Saidul Amin, MA.

Besarnya antusiasme masyarakat yang hadir bahkan mendapat tanggapan dari salah seorang warga Kota Tanjungpinang yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan:

«“Alhamdulillah, Subhanallah. Tabligh Akbar tanggal 24 September 2026 merupakan Tabligh Akbar terbesar dan teramai di Kauman Muhammadiyah. Ternyata PCM Muhammadiyah Tanjungpinang Timur bukan kece-kece rupanya. Saya bukan memuji, tetapi kenyataannya begitu. Muhammadiyah Tanjungpinang butuh siraman ruh Kemuhammadiyahan.”»

Dalam acara tersebut turut hadir perwakilan Pemerintah Kota Tanjungpinang, yakni Kepala Kesbangpol Kota Tanjungpinang, Samsudi, S.Sos., M.H., yang mewakili Wali Kota Tanjungpinang. Hadir pula Camat Tanjungpinang Timur, Lurah Batu IX, serta para tokoh Muhammadiyah Kota Tanjungpinang.

Dari Tabligh Akbar ke Mimbar Jumat

Keesokan harinya, Jumat, 25 September 2026, Dr. Saidul Amin, MA., yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM), kembali hadir di Masjid At Taqwa Muhammadiyah Tanjungpinang. Kali ini, ia dipercaya menjadi khatib salat Jumat.

Kehadiran sang rektor seakan menjadi magnet tersendiri bagi warga Kota Tanjungpinang. Sekitar 15 menit sebelum beliau naik ke mimbar, sejumlah pimpinan Muhammadiyah mulai berdatangan. Di antaranya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kepulauan Riau, Drs. H. Huzaifah Dadang AG., M.Si., Edward Mandala, Nazaruddin, M.H., Mukhtar Sujadi, Delwi Jhonsandre, Amril, Rauf Rahim, serta para jemaah yang terus berdatangan memenuhi masjid.

Khutbah pun dimulai.

Dalam ceramahnya, Dr. Saidul Amin menyampaikan sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan bersama:

Mengapa umat Islam mengalami kemunduran, sementara bangsa-bangsa lain justru mengalami kemajuan?

Ia menerangkan bahwa Muhammad Abduh pernah mengemukakan sebuah jawaban yang sangat terkenal:

«“Karena umat Islam meninggalkan Islam.”»

Pernyataan tersebut bukan semata-mata untuk menyalahkan keadaan, tetapi lebih sebagai bahan introspeksi bagi umat Islam. Sebab, Islam tidak hanya mengajarkan tentang ibadah, tetapi juga mengajarkan ilmu, kerja keras, kedisiplinan, persatuan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.

Tiga Persoalan yang Perlu Direnungkan

Dalam ceramah tersebut, Dr. Saidul Amin juga menerangkan pemikiran Muhammad Natsir mengenai penyebab umat Islam di Indonesia dapat mengalami keterbelakangan apabila tidak menyadari persoalan yang menjadi penyebab kemunduran tersebut.

Setidaknya ada tiga hal yang disampaikan.

Pertama, umat Islam tidak menyadari kekuatannya.

Kekuatan utama umat Islam adalah tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT seharusnya menjadi sumber kekuatan dalam setiap perjuangan.

Ketika seseorang bekerja dan berjuang karena mengharapkan keridaan Allah SWT, ia tidak akan mudah menyerah hanya karena tidak mendapatkan penghargaan dari manusia.

Orang beriman seharusnya lebih sering bertanya:

«“Apa yang bisa saya berikan?”»

Bukan hanya:

«“Apa yang bisa saya dapatkan?”»

Semangat inilah yang mengingatkan kita pada pesan K.H. Ahmad Dahlan:

«“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”»

Pesan tersebut mengajarkan tentang keikhlasan dalam berkhidmat. Organisasi, masyarakat, dan bangsa bukan sekadar tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan ruang untuk memberikan manfaat dan menjalankan amanah.

Kedua, umat Islam tidak menyadari siapa yang menjadi tantangan, siapa yang menjadi lawan, dan siapa yang menjadi kawan dalam perjuangannya.

Hari ini, terkadang kita justru menjadikan kawan sebagai musuh dan musuh sebagai kawan. Perbedaan kepentingan sering kali membuat sesama umat saling berhadapan, sementara persoalan yang lebih besar justru terlupakan.

Dalam kehidupan sosial, kita harus saling menolong, menghargai, dan bertoleransi. Namun, dalam persoalan akidah, kita tetap memiliki prinsip dan keyakinan yang tidak boleh dicampuradukkan.

Ketiga, umat Islam sama-sama bekerja, tetapi belum pandai bekerja sama.

Banyak orang memiliki kemampuan, banyak kelompok memiliki sumber daya, dan banyak organisasi memiliki program. Namun, ketika semuanya berjalan sendiri-sendiri, kekuatan yang besar dapat menjadi kecil.

Karena itu, yang kita perlukan bukan hanya bekerja, tetapi juga bekerja sama.

Kekuatan umat akan menjadi lebih besar ketika berbagai potensi yang berbeda dapat disatukan dalam satu tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kemaslahatan bagi umat, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Saatnya Berbenah dan Membangun Kolaborasi

Dari tiga persoalan tersebut, ada satu hal penting yang harus kita lakukan: berbenah dan membangun kolaborasi.

Khususnya di Tanjungpinang, kita harus tetap optimistis. Jika umat Islam mampu menyadari kekuatannya, memahami tantangannya, serta membangun kerja sama yang baik, insyaallah akan lahir perubahan dan kemajuan.

Sebab, kemajuan tidak akan lahir hanya dari banyaknya orang yang bekerja, tetapi dari banyaknya orang yang bersedia bekerja bersama untuk tujuan yang baik.

Pada akhirnya, Tabligh Akbar bertema “Islam Berkemajuan” bukan sekadar sebuah kegiatan yang menghadirkan banyak jemaah. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk kembali mengingatkan kita tentang pentingnya ilmu, keikhlasan, keteladanan, kerja keras, persatuan, dan kolaborasi.

Islam berkemajuan bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan bagi kehidupan.

Semoga dari semangat yang tumbuh dari Tabligh Akbar dan mimbar Jumat tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi terus hidup dalam tindakan dan pengabdian.

Insyaallah, Tanjungpinang maju, umat semakin kuat, dan Islam semakin memberi manfaat bagi kehidupan (*).