Katakepri.com, Jakarta – Setiap pedagang menginginkan keuntungan. Sebuah keuntungan yang besar tentu saja. Namun semua pedagang tentu iri dengan perniagaan yang dilakukan oleh Shuhaib bin Sinan RA. Keuntungan dalam perniagaannya diabadikan oleh Allah SWT.
“Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun terhadap hamba-hambanya.” (QS al-Baqarah [2]: 207).
Ibnu Abbas RA menyebut turunnya ayat tersebut bersebab peristiwa yang melibatkan Shuhaib.Shuhaib bukanlah lelaki yang dibesarkan di Jazirah Arab. Ia adalah perantau, seperti Salman Al Farisi dan Bilal bin Rabah. Shuhaib datang dari negeri Romawi. Namun hatinya yang bersih membuat keimanan mudah merasuk dan memimpin hatinya.
Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun terhadap hamba-hambaa-Nya.
QS AL-BAQARAH:207
Setelah memeluk Islam, Shuhaib hendak mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA yang hijrah ke Madinah secara diam-diam. Namun nasibnya tak cukup baik. Ia dikepung pasukan Quraisy.
Keberanian dan keimanannya nan tinggi tak membuatnya gentar. Ia menghardik orang-orang Quraisy dan mengancamnya dengan panah. Lantas, ia menawarkan seluruh hartanya yang tertinggal di Makkah untuk orang-orang yang mengejarnya. Mudah saja ia melepaskan semua harta kekayaannya. Baginya, menyelamatkan iman jauh lebih penting dibandingkan menyelamatkan kekayaan.
Ia pun dilepas dan bisa menyusul Rasulullah SAW di Quba. Waktu itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang sahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya.Rasulullah SAW yang melihatnya berseru dengan gembira. Rasulullah SAW pun bersabda, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya. Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”
Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya. Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya.
Sebuah perdagangan yang beruntung. Sebuah persaksian dari Allah SWT dan Rasulullah SAW secara langsung. Tentu semua pedagang akan iri dengan perdagangan yang dilakukan Shuhaib.
Secara materi dalam kasat mata manusia memandang, Shuhaib seharusnya merugi. Ia kehilangan semua harta benda yang ia kumpulkan semasa merantau ke Makkah. Semua sirna. Kini ia tak lagi menyisakan kekayaan.
Ternyata bukan ada atau tidaknya harta sebagai takaran keuntungan. Keuntungan yang besar adalah keuntungan yang diberikan di jalan Allah SWT. Semakin besar keuntungan dibelanjakan di jalan Allah, tentu semakin beruntung pula orang tersebut.
Berdagang adalah salah satu cara efektif dalam membuka pintu rezeki. Para sahabat yang utama juga rerata berprofesi sebagai pedagang. Rasulullah SAW sendiri juga ditempa dalam sebuah misi perdagangan.
Tak ada yang lain harapan bagi sosok pedagang tentu untuk mengambil keuntungan. Saat keuntungan berlimpah ruah, disitulah letak ujiannya. Apakah kita hendak menjadi insan penuh syukur hingga bertambah-tambah kekayaan. Ataukah kita yang diancam dengan nikmat kufur.
Semua pilihan itu bisa dengan mudah diputuskan jika seseorang paham bagaimana letak sebuah kekayaan. Bagi orang beriman materi adalah sarana. Jika dengannya dakwah bisa berjalan, maka materi tersebut adalah sebuah kebaikan. Jika dengan materi itu hati tertawan, maka materi tersebut harus dilepaskan.
Bagi orang beriman, meteri hanya diletakkan di tangan. Ia tak sampai merasuk dalam hati dan menjadi obsesi. Kedudukannya tak lebih dari sekadar sarana. Sarana bisa berubah-ubah. Suatu kesempatan mungkin materi menjadi sarana efektif, di lain kesempatan bisa jadi materi jadi sarana yang membahayakan.
Seperti yang sedang dilakukan Shuhaib. Harga imannya jauh lebih tinggi dibandingkan semua harta kekayaannya. Ya semua. Kita, bahkan perlu mengeryitkan dahi kala kotak infak mampir sementara ada dua lembaran Rp 50 ribu terselip manis. Sementara di lain waktu amat mudah merogoh ratusan ribu demi sepatu model terbaru saat koleksi sepatu di rumah sudah menggunung.
Pemahaman yang utuh atas materi itulah yang harus tertanam. Saat orang beriman menyadari hakikat harta, maka yang tercipta adalah sebuah keindahan dalam beramal.
Seperti yang lantas dicontohkan Shuhaib. Kisah kepahlawanannya tak hanya berhenti disitu. Shuhaib adalah pula seorang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul Mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah.
Tak mampir sedikitpun harta yang ia peroleh melainkan habis untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin. Amalnya hanya untuk menerapkan firman Allah SWT,”Dan diberikannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan.” (QS al-Insan [76]:8)
Sampai-sampai kemurahannya yang amat sangat itu mengundang peringatan dari Umar bin Khattab RA. Umar berkata pada Shuhaib, “Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas!”
Shuhaib dengan lembut menjawab, “Sebab aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan. (Red)
Sumber : republika.co.id






