Melampaui Hasil Survei, Presiden Erdogan Sukar Ditumbangkan

Katakepri.com, Ankara – Upaya menggoyang pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan mendapat halangan. Pemilihan Presiden Turki 2023 diperkirakan bakal diputuskan melalui putaran kedua dengan kans Erdogan yang mendobrak perkiraan lembaga-lembaga survei di Turki.

Lawan-lawan politik Presiden Recep Tayyip Erdogan diperkirakan akan menghadapi perjuangan berat untuk mengakhiri kekuasaan orang nomor satu di Turki selama dua dekade, dalam pemungutan suara ulang pada 28 Mei 2023 mendatang.

Hal itu setelah Erdogan dan partai politik koalisinya mendapatkan dominasi suara dan tampil di luar prediksi lembaga survei pada pemungutan suara putaran pertama pada Ahad (14/5/2023) walaupun gagal meraih suara mayoritas 50 persen.

Rakyat Turki menunggu pada Senin untuk melihat hasil dukungan untuk Erdogan, yang tepat di bawah ambang batas 50 persen. Hasil itu membuat pemilu di Turki masuk ke putaran kedua. Sebagian kelompok anti-Erdogan menilai hasil ini sebagai penghakiman atas pemerintahannya yang otokratis.

Sementara itu, media pro pemerintah bersorak atas hasil tersebut, dengan surat kabar Yeni Safak menyatakan “Rakyat Menang”. Pernyataan itu mengacu pada Aliansi Rakyat Erdogan yang tampaknya telah memenangkan suara mayoritas di parlemen. Hasil kali ini juga berpotensi memberi tempat kepada Erdogan untuk kembali menang di pemilihan presiden.

“Pemenangnya tidak diragukan lagi adalah negara kita,” kata Erdogan dalam sebuah pidato di hadapan para pendukungnya yang bersorak-sorai di markas besar Partai AK yang berkuasa di Ibu Kota Ankara Ahad malam.

Menjelang pemilu, pihak oposisi merasa memiliki peluang terbaik untuk menggulingkan Erdogan, didorong oleh survei dan jajak pendapat yang menunjukkan bahwa Erdogan tertinggal dari penantang utamanya, Kemal Kilicdaroglu.

Namun, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa Erdogan dan Partai AK yang berakar pada konservatisme Islam telah mampu menggalang para pemilih konservatif meskipun terjadi krisis biaya hidup.

Kilicdaroglu, kepala aliansi enam partai, bersumpah untuk menang dalam pemilihan umum dan menuduh partai Erdogan mencampuri penghitungan dan rekapitulasi hasil pemilu. Pemimpin oposisi itu juga meminta para pendukungnya di negara berpenduduk 84 juta jiwa tersebut untuk bersabar.

Pemilu yang sangat penting

Prospek kekuasaan Erdogan yang akan memasuki kepemimpinan di dekade ketiga akan membuat para aktivis hak-hak sipil makin berteriak lantang. Mereka selama ini terus mengampanyekan reformasi untuk membatalkan kerusakan hak sipil, yang mereka katakan telah dilakukan Erdogan terhadap demokrasi di Turki.

Sementara itu, kelompok oposisi berjanji, ribuan tahanan politik dan aktivis hak sipil akan dibebaskan jika mereka memenangkan suara. Dari sisi ekonomi, hasil sementara pemilu membuat indeks saham utama Turki anjlok 6,4 persen pada perdagangan saat awal pasar dengan indeks perbankan turun 9,5 persen.

Pemilu Turki diawasi dengan ketat oleh Eropa, Washington, Moskow, dan seluruh regional. Penyebabnya, Erdogan telah menegaskan kekuatan Turki sambil memperkuat hubungan dengan Rusia. Sementara itu, ia memberikan tekanan kepada aliansi tradisional Ankara dengan Amerika Serikat.

Erdogan adalah salah satu sekutu utama Presiden Vladimir Putin dan penampilannya yang dominan kemungkinan besar akan condong ke Kremlin dan membuat gusar pemerintahan Biden. Selain itu, banyak pemimpin Eropa yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan Erdogan.

Saat ini, dengan 99 persen kotak suara telah dihitung, Erdogan memimpin dengan 49,35 persen suara dan Kilicdaroglu dengan 45,0 persen, menurut kantor berita milik pemerintah, Anadolu. Tingkat partisipasi pemilu mencapai 88,8 persen.

Kandidat ketiga, Sinan Ogan yang merupakan tokoh nasionalis, meraih sekitar 5,2 persen suara. Para analis mengatakan bahwa ia dapat memainkan peran sebagai “kingmaker” dalam pemilihan jika ia memutuskan untuk mendukung salah satu dari dua kandidat tersebut.

Galip Dalay, rekan peneliti di Chatham House, mengatakan bahwa aliansi Erdogan yang berkuasa akan maju ke putaran kedua “dengan keunggulan numerik dan psikologis”.

“Selama masa kampanye menjelang pemilihan, Presiden Erdogan kemungkinan besar akan menekankan stabilitas karena dia sudah mempertahankan mayoritas di parlemen,” kata Dalay.

Kelompok Oposisi yang Lemah

Erdogan yang telah jadi pemimpin terlama di Turki modern telah mengubah negara itu menjadi pemain global. Ia mentransformasikan negara dengan proyek-proyek infrastruktur besar, seperti bandara dan jembatan, dan membangun industri pertahanan yang menarik banyak investor asing.

Namun, pemilu menyebabkan ketidakpastian politik yang akan membebani pasar keuangan dalam dua pekan ke depan. Itu ditandai dengan nilai mata uang lira yang mencapai level terendah dua bulan terhadap dolar AS, melemah ke 19,70 sebelum naik tipis ke 19,645 pada pukul 06.00 waktu setempat.

Biaya asuransi terhadap kegagalan Turki dalam membayar utang negara melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan, melonjak 105 basis poin (bps) dari level hari Jumat menjadi 597 bps, menurut S&P Global Market Intelligence.

Erdogan mulai menjabat dengan membawa sentimen Islam yang lama ditindas selama masa kekuasaan sekuler Turki. Ia mengembalikan penggunaan hijab yang sempat lama dilarang pemerintahan sekuler Turki. Ia juga mengubah kembali Hagia Sophia, sebuah gereja kuno Romawi, menjadi masjid setelah sebelumnya dijadikan museum oleh rezim sekuler.

Suasana di markas besar partai oposisi telah mereda semalam saat penghitungan suara dilakukan. Sebelum pemilu, jajak pendapat telah menempatkan Kilicdaroglu sedikit di depan dengan dua jajak pendapat pada hari Jumat menunjukkan bahwa ia dan kelompok oposisi berada di atas ambang batas 50 persen.

Pihak oposisi berharap dapat memperoleh keuntungan dari kemarahan para pemilih atas kesengsaraan ekonomi Turki selama ini. Harapan itu mengemuka terutama setelah kebijakan suku bunga rendah yang tidak lazim memicu krisis lira dan adanya lonjakan inflasi.

Tuduhan atas respons pemerintah yang lambat dalam menangani gempa bumi yang menewaskan 50 ribu orang pada Februari lalu juga menjadi senjata oposisi untuk memengaruhi para pemilih. Kilicdaroglu telah berjanji untuk menghidupkan kembali demokrasi setelah bertahun-tahun penindasan oleh negara.

Ia berjanji kembali ke kebijakan-kebijakan ekonomi ortodoks, memberdayakan institusi-institusi yang kehilangan otonomi di bawah Erdogan, dan membangun kembali hubungan yang rapuh dengan Barat. Para kritikus khawatir Erdogan akan memerintah secara lebih otokratis jika ia memenangkan masa jabatan berikutnya.

Sementara itu, Erdogan, presiden yang kini berusia 69 tahun, merupakan seorang veteran yang telah memenangkan belasan kali pemilihan umum. Dalam setiap kemenangan, ia mengatakan akan selalu menghormati demokrasi. (Red)

Sumber : republika.co.id