KIsah haru perjuangan manusia silver demi menghidupi anak dan istri
Katakepri.com, Tanjungpinang – Sering ditolak saat melamar pekerjaan tak lantas membuat Iwan Subagio (45) berputus asa. Demi menghidupi istri dan seorang anak yang masih balita, Iwan mengubur dalam rasa malunya dan rela menjadi manusia silver.
Bagi Iwan, bisa melihat istri dan anaknya makan itu segalanya. Hal itu juga yang membuat Iwan tak bergeming meski sirine dan lampu rotator kendaraan Satpol PP menghampiri dirinya.
Dibenaknya tak ada lagi rasa malu ataupun takut. Pewarna yang mengandung zat berbahaya (merkuri) pun sanggup Iwan gunakan setiap harinya untuk melumuri tubuhnya agar bisa menjadi manusia silver seutuhnya.
Sambil merapihkan cat yang sedikit luntur karena terkena keringat, Iwan mempersilahkan dirinya untuk diwawancarai malam itu.
Dengan perasaan kesal bercampur sedih, Iwan menceritakan awal mula dirinya bisa menjadi seperti itu.
Bermula ketika penghasilannya sebagai kuli bangunan sering tidak dibayarkan sesuai kesepakatan, lantas membuat Iwan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain.
Lama mencari, Iwan tak kunjung mendapatkannya. Tidak ada satupun panggilan yang Iwan terima dari ratusan lamaran yang ia ajukan.
Sementara di rumah, istri dan anaknya yang masih balita sedang menantinya pulang membawa makanan dan susu.
Keadaan itulah yang lantas membuat Iwan bak dihadapkan pada pilihan yang sulit dan mau tidak mau harus memilih jalan menjadi manusia silver.
“Liat kawan-kawan manusia silver yang di tepi laut, muncul inisiatif untuk mencobanya. Kalau diturut, ya malu juga sebenarnya, bahkan kadang saya menangis dalam hati kenapa bisa jadi seperti ini,” lirih Iwan.
Setiap pukul 18.30 wib, Iwan mulai mempersiapkan diri untuk pergi ke Swalayan Pinang Kencana, tempat ia mangkal setiap harinya.
Berdiri tegap berjam-jam layaknya patung membuatnya kerap menjadi bahan perhatian warga yang berbelanja.
Tak hayal banyak warga yang memberikan uang kepadanya karena merasa takjub dan iba. Namun tak sedikit juga orang yang mengacuhkannya.
“Ya antara cukup tak cukuplah bang, belum lagi untuk biaya pengobatan kita sendiri, karena kita tahu didalam pewarna ini ada merkurinya, racun yang sangat berbahaya bagi tubuh.
Jadi, selain perlu membeli minyak goreng, kapas dan sabun khusus untuk membersihkan bekas cat ini, kita juga perlu membeli obat-obatan seperti antibiotik dan penahan rasa sakit setiap harinya,” kata Iwan.
Kepada pemerintah, Pria kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur ini meminta untuk lebih peka dan peduli terhadap nasib masyarakat sepertinya yang kerap kali kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
“Harapan kita ya coba tengok-tengoklah keadaan kita ini,” ujar Iwan sendu.
Bahkan menurut pengakuan Iwan, selama ini dirinya tidak pernah sama sekali mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.
“Tidak ada. Kalaupun ada, tidak akan kami terima langsung. Kami sudah sangat kecewa sekali terhadap sikap pemerintah kepada kami selama ini. Kalau abang mau, saya bersedia statemen saya dijadikan konten untuk meluapkan kekecewaan kepada pemerintah,” gumam Iwan.
Untuk diketahui, Iwan Subagio warga Hang Lekir, Kelurahan Batu IX, Kecamatan Tanjung Pinang Timur Kota Tanjungpinang ini merupakan satu diantara sekian banyak warga yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan saat ini.
Untuk memenuhi kebutuhan sang istri dan si buah hati yang masih balita, Iwan rela bekerja paruh waktu sebagai tukang ojek pada pagi hingga siang hari dan menjadi manusia silver pada malam harinya. (Angga






