Tips Sederhana Atasi Burnout

Katakepri.com, Jakarta – Tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik, kesehatan mental juga penting untuk dirawat. Meskipun tidak ada orang yang 100 persen sehat, tetapi alangkah baiknya bisa berusaha untuk menjaga kesehatan mental.

Sama hal nya dengan menjaga kesehatan fisik, kita bisa melakukan medical check up sebulan sekali ataupun setahun sekali. Untuk merawat kesehatan mental kita juga perlu melatih emosi dan self-care.

Salah satu kesehatan mental yang menjadi perhatian banyak orang saat ini adalah burnout. Burnout merupakan kondisi dimana seseorang merasa banyak emosi yang muncul. Kondisi ini kerap dialami oleh perempuan.

Hal tersebut dinyatakan oleh psikolog anak dan keluarga Anastasya Satriyo. Ia juga menyatakan bahwa kadar burnout setiap orang berbeda-beda. Maka tidak perlu membandingkannya dengan orang lain.

“Analoginya kita angkat beban nih, buat bunda yang sudah biasa olahraga angkat beban 10 kg, mungkin gampang banget buat dia. Mungkin udah advanced banget nih 20-30 kg itu sudah biasa buat dia,” kata Anas, dikutip dari Haibunda, Rabu (22/12/2021).

Baca juga: Kenali ‘Hustle Culture’, Gila Kerja Bisa Berujung Burnout
“Tapi buat orang yang nggak pernah olahraga, angkat beban 5 kg saja sudah capek banget. Dan ini bukan berarti satu lebih jago, tapi sudah terbiasa saja. Dalam kesehatan mental seperti itu.”

Psikolog tersebut juga menyebutkan permisalan lainnya. Seperti ibu yang baru saja memiliki bayi tidak bisa disamakan dengan ibu yang sudah memiliki dua atau tiga anak. Sebab ibu yang baru saja memiliki bayi kerap mengalami burnout karena adanya perubahan hormon yang cukup drastis.

Untuk mengatasinya berikut 3 cara yang dapat dilakukan:

1. Kenali emosi sendiri

Yang pertama, apapun isu emosinya, kita perlu berlatih menamai emosi kita. “Yang lagi saya rasain ini saya capek, kesal, atau dua-duanya. Yang saya rasain ini sedih, kecewa atau dua-duanya itu ada emosi yang lain,”

Anas mengatakan, kesadaran akan menamai emosi itu zaman sekarang sudah diajarkan pada anak sejak dini.

“Bagaimana dengan kita orang dewasa yang dulu enggak dapet tuh pembelajaran pengenalan emosi? Jadi kita belajar mengenali, sambil anak belajar juga menamai emosinya,” katanya.

2. Detoks media sosial

Media sosial diibaratkan pedang bermata dua. Di satu sisi, ada banyak info menarik yang bisa kita dapatkan, di sisi lain, kita bisa burnout karena postingan media sosial.

Kenapa kita burnout karena media sosial? Karena media sosial hanya menampilkan satu emosi. Kalau Bunda perhatikan lagi, jarang sekali orang-orang yang mengekspresikan berbagai emosi dirinya di media sosial. Kebanyakan unggahan orang-orang itu happy.

“Oh seharusnya jadi orang tua itu happy. Oh, seharusnya jadi ibu itu kuat terus. Padahal kita bisa punya mixed emotion bahwa saya jadi ibu itu happy, saya kuat jadi ibu tapi saya harus break juga lho. Oh iya saya senang main dengan anak saya, tapi saya juga butuh me time lho. Jadi memahami keberagaman emosi kita sebagai orang dewasa itu sangat penting”

Kalau sudah merasa burnout, coba sesekali cek berapa lama kita menggunakan media sosial di ponsel. Tak ada salahnya juga untuk melakukan detoks media sosial minimal seminggu sekali.

3. Komunikasikan dengan pasangan

Kalau Bunda merasa burnout, coba komunikasikan dengan pasangan, dengan i-message.

“Saya ngerasa, saya butuh istirahat dua jam deh. Kamu bisa enggak ya pegang anaknya? Atau hari ini saya capek, enggak bisa masak. Boleh enggak ya kita catering? Jadi kita mengomunikasikan kebutuhan kita dengan i-message tadi,”

Untuk itu, usahakan komunikasikan dengan suami setidaknya 20 menit sehari, kita berkomunikasi tentang kebutuhan kita. Kita harus mengenali pribadi masing-masing.

“Pasangan kita adalah tim untuk membangun kesehatan mental kita, bukan pasangan yang merusak kesehatan mental kita,” kata Anas. (Red)

Sumber : detik.com, haibunda.com