katakepri.com, Tanjungpinang – Masyarakat Kota Tanjungpinang beberapa waktu belakang ini sedang ramai membicarakan kebijakan bantuan seragam gratis untuk peserta didik baru SD dan SMP di wilayah Kota Tanjungpinang.
Program yang merupakan Program Politik SABAR (nama koalisi Syahrul-Rahma) yang sempat dijanjikan pada saat pilwako 2018 lalu ini sedang hangat diperbincangkan karena sampai pada saat ini belum terealisasikan.
Seperti yang dijelaskan oleh Ita yang saat ini anaknya baru masuk sekolah SD 004 Tanjungpinang Timur yang berada di Batu 7. Ita yang kesehariannya ibu rumah tangga ini menceritakan bahwa ia sudah membeli sendiri seragam sekolah untuk anaknya.
Ita membeli seragam karena sudah tidak sabar menunggu program seragam gratis yang tak kunjung dilaksanakan Pemko Tanjungpinang, Ia rela merogoh kocek agar anaknya yang saat itu baru merasakan suasana baru dalam hidupnya semangat untuk bersekolah.
“Kami sudah tak sabar nunggu seragam itu, jadi kami udah beli sendiri seragam itu. Karena tak mungkin juga anak kami mau sekolah nunggu seragam gratis dari pemerintah”, ucap Ita sambil menunjuk anaknya, Senin (26/08).

Padahal sambung Ita, saat masa pemilihan Walikota, Ia dengan keukeuhnya memilih Ayah (sapan Syahrul) dan Rahma karena salah satu visi misinya itu.
“Iya saya memilih Sabar,” ucapnya pelan.
Ditempat yang sama Yt (red:inisial), yang juga orang tua murid di SD 004 menilai program pemerintah tentang seragam gratis tersebut lamban dan bertele-tele. Itu pulalah yang membuat dirinya tidak berharap banyak dan langsung membeli sendiri seragam sekolah anaknya.
Menurut Yt anak yang baru saja mengenal dan menjajaki bangku sekolah dasar harus memiliki apa yang semestinya dimiliki seorang pelajar. Seragam, tas, sepatu dan alat tulis merupakan penyemangat anak untuk Sekolah.
“Kita tidak bisa berharap sama orang Apalagi pemerintah. Seragam itu salah satu penyemangat anak untuk rajin sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SD 004 Tanjungpinang Timur, Akbariah saat dijumpai dikantin Sekolah mengaku hanya sebagian siswa yang masih menggunakan pakaian TK dan bebas.
“Disini untuk kelas satunya ada lima lokal, kalau hari Senin paling banyak ada lima sampai enam murid yang memakai pakaian TK, sisanya sudah beli seragam sendiri,” ujarnya.

Akbariah mengakui bahwa Ia dan pihak sekolah sampai saat ini tidak melarang wali murid untuk membeli dan menjahit seragam sendiri. Ia hanya bisa menyarankan mereka untuk bersabar dan menunggu karena seragam yang dibeli maupun dijahit sendiri tidak akan sama dan akan terlihat mencolok ketika upacara.
“Saya paham betul proses demi proses tahapan pembuatan baju itu dari mulai pemesanan bahan, transportasi dan pengerjaan. Menurut saya dua bulan belum menggunakan seragam itu masih wajar,” ucapnya.
Akbariah berharap Pemko cepat merealisasikan seragam gratis tersebut agar para siswa SD yang baru masuk bisa menggunakan dan merasakan bagaimana memakai seragam seutuhnya.
Awalnya program ini sempat disambut baik oleh masyakarat Tanjungpinang pada saat dikampanyekan. Dari progam ini pula Popularitas Syahrul dan rahma mulai meningkat pada saat pilwako kemarin.
Namun setelah terpilih program ini justru jadi pertanyaan bagi masyarakat karena lambatnya proses pengadaan seragam tersebut. (Angga)






