Konflik Pulau Rempang, Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga Keluarkan Pernyataan Sikap

Katakepri.com, Tanjungpinang – Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga, mengeluarkan pernyataan sikap, berupa maklumat tentang kejadian yang menimpa masyarakat Melayu Rempang, Galang Kota Batam.

Pernyataan didalam Maklumat tersebut diterima oleh katakepri.com secara tertulis di Tanjungpinang, Rabu (13/9/2023).

Berikut isi maklumat WARKAT TITAH Nomor :4-01/WT-PZKRL/IX/2023 yang disampaikan dan ditandatangani oleh Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Besar Tengku Hendra Syafri Riayat Syah Ibni Tengku Husin Saleh dan Dipertuan Muda Raja.H. Supri, S.Sos, M.Si Ibni Raja Yasin Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga :

Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga telah memperhatikan secara seksama perkembangan dan keadaan masyarakat di Pulau Rempang-Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau akhir- akhir ini. Perkembangan itu telah menimbulkan kemasygulan kita semua, mencederai masyarakat tempatan secara fisik dan psikologis, serta dipandang tak patut dalam tradisi, adat- istiadat, dan tamadun Melayu yang terala, khasnya berkenaan dengan pentadbiran negeri dan perlakuan terhadap rakyat sendiri. Seyogyanya, pembangunan mendatangkan kemakmuran negeri dan menyejahterakan rakyat seperti yang ditauladankan oleh Kesultanan Riau-Lingga pada masa lampau. Berhubung dengan itu, Beta maklumatkan WARKAH TITAH ini kepada semua pihak yang berkenaan.

  1. Rakyat yang bermastautin dikampung-kampung tua Rempang-Galang dan sekitarnya merupakan keturunan prajurit ulung Kesultanan Melayu Bintan dan selanjutnya Kesultanan Riau-Lingga. Nenek-moyang mereka, sepertihalnya nenek-moyang semua orang Melayu Kepulauan Riau lainnya, sangat berjasa dalam membangun negeri ini dan melawan serta mengusir penjajah pada masa lampau.
  2. Tak ada sesiapa pun, menurut adat-resam dan tamadun Melayu, yang boleh memaksa mereka untuk meninggalkan kampung halamannya, yang telah dianugerahkan oleh Sultan-Sultan Melayu sejak berabad-abad yang lampau. Merekalah yang meneruskan, menjaga, dan memperjuangkan semangat kewiraan, pelestarian adat-istiadat, budaya, dan peradaban Melayu di Rempang-Galang dan sekitarnya sampai setakat ini. Oleh sebab itu, keberadaan mereka dikampung halaman mereka harus dipertahankan.
  3. Adapun di tanah-tanah yang tiada berpenghuni di Rempang-Galang itu, yang sangat luas dibandingkan dengan lahan kampung yang ditempati penduduknya, silalah dilakukan pembangunan asal tak bertentangan dengan adat-resam Melayu, agama Islam, dan nilai-nilai keadilan untuk semua.
  4. Diharapkan juga kearifan pihak yang berkenaan untuk membebaskan rakyat Melayu yang ditangkap dan ditahan oleh pihak keamanan karena mereka hanya ingin mempertahankan kampung halamannya ketika terjadi serangan tergempar kekampung mereka pada Kamis, 7 September dan Senin, 11 September 2023. Sesungguhnya, mereka bukanlah penjahat.
  5. Semoga mulai hari ini tak terjadi lagi peristiwa yang memilukan berupa ancaman, tekanan, penyiksaan, dan tindakan negatif lainnya terhadap rakyat Kepulauan Riau atas nama investasi dan pembangunan. Apatah lagi, sampai mengancam jiwa dan menimbulkan kengerian psikologis bagi anak-anak yang tak dibenarkan oleh bangsa beradab manapun didunia ini. Kontribusi Kesultanan Riau-Lingga atau Kepulauan Riau sangat besar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak ada alasan yang dapatdibenarkan untuk mencederai hati-sanubari kami Bangsa Melayu di TanahTumpah Darah kami sendiri.

”Menjunjung Adat Menjulang Daulat”
Pulau Penyengat Indera Sakti
Selasa, 27 Shafar 1445 H.,13 September 2023.