Laut Cina Selatan Kembali Memanas

Katakepri.com, Manila – Klaim penembakan laser tingkat militer oleh kapal Cina yang dilayangkan Filipina memanaskan Laut Cina Selatan. Amerika Serikat (AS) dan Filipina akan menggelar latihan militer besar-besaran sebagai tanggapan atas insiden itu.

Dalam pernyataannya, Senin (13/2) pasukan penjaga pantai Filipina mengatakan kapal Cina juga melakukan manuver berbahaya dengan menghalangi kapal patroli BRP Malapascua mendekati beting Second Thomas pada 6 Januari lalu. Pada 2022 Filipina sudah mengajukan hampir 200 protes diplomatik terhadap aksi Cina di perairan yang disengketakan tersebut.

Filipina sejauh ini telah mengajukan keluhan resmi kepada pemerintah Cina menyusul insiden di bagian Laut Cina Selatan yang disengketakan. Presiden Ferdinand Marcos Jr memanggil Duta Besar China Huang Xilian di Manila kemarin untuk mengungkapkan “keprihatinannya”.

photo

Sedangkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price dalam penyataannya mengatakan bahwa negaranya mendukung sekutu Filipina menghadapi laporan penggunaan perangkat laser oleh Penjaga Pantai RRC terhadap awak kapal Penjaga Pantai Filipina.

“Tingkah laku RRT bersifat provokatif dan tidak aman, mengakibatkan kebutaan sementara awak BRP Malapascua dan mengganggu operasi sah Filipina di dalam dan sekitar Second Thomas Shoal,” tulisnya. 

Menurutnya, secara lebih luas perilaku operasional RRT yang berbahaya secara langsung mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan. Hal itu juga dinilai melanggar kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan sebagaimana dijamin oleh hukum internasional dan merusak tatanan internasional berbasis aturan.

Berdasarkan kekhawatiran bersama itu, Filipina dan Amerika Serikat (AS) tahun ini akan melakukan latihan militer gabungan terbesar kedua negara sejak 2015. Latihan militer tersebut menggarisbawahi peningkatan hubungan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Ferdinand ‘Bongbong’ Marcos Jr. 

“Latihan ini akan melibatkan lebih dari 8.900 tentara tahun sebelumnya,” kata Panglima Angkatan Darat Romeo Brawner kepada wartawan, Rabu (15/2).

“Semua latihan yang kami lakukan adalah untuk menanggapi semua jenis ancaman yang mungkin kita hadapi di masa depan, baik buatan manusia maupun alam,” kata dia menambahkan.

Filipina telah memberi Washington akses yang lebih besar ke pangkalan militernya. Hal ini sebagai bagian dari upaya yang terakhir untuk mencegah peningkatan ketegasan Cina di Laut China Selatan, termasuk juga ketegangan atas Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri.

Pada 2015, lebih dari 11 ribu tentara dari kedua negara berpartisipasi dalam latihan militer gabungan tersebut. “Latihan kali ini akan melibatkan banyak sekali kegiatan, tidak hanya berfokus pada pengembangan kemampuan perang kedua angkatan bersenjata, tetapi juga peran non-tradisional lainnya seperti bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana,” kata Brawner. 

photo

Pihak Amerika Serikat mengamini rencana tersebut. “Washington berencana akan melipatgandakan upayanya dengan sekutu Filipina kami, untuk meningkatkan kemampuan pertahanan militer dan penjaga pantai Filipina. Saat ini kami bekerja bahu-membahu untuk menegakkan tatanan internasional berbasis aturan,” kata juru bicara Pentagon Brigadir Jenderal Patrick Ryder di Twitter.

Pihak RRC sebelumnya menyangkal ada pelanggaran dari pihak mereka di Laut Cina Selatan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Wenbin, menyatakan bahwa justru kapal Cina yang “menyusup ke perairan Karang Ren’ai tanpa izin China”. Ia menekankan bahwa Filipina harus menghindari tindakan apa pun yang dapat memperburuk perselisihan dan memperumit konflik.

Pada 2016, pengadilan arbitrase internasional memutuskan bahwa klaim China atas petak luas Laut China Selatan tidak memiliki dasar sejarah atau hukum dalam kasus yang diajukan oleh Filipina. Cina menolak keputusan tersebut, dan telah terjadi beberapa kebuntuan angkatan laut dan gesekan di wilayah tersebut selama bertahun-tahun. (Red)

Sumber : republika.co.id