Katakepri.com, Jakarta – Memelihara silaturahim merupakan salah satu perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagaimana terdapat di dalam Alquran Surat an-Nisaa (4): 1.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu dengan yang lain, dan (peliharalah) silaturahim. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Silaturahim dapat dipelihara dengan, di antaranya, saling mengunjungi. Dalam kunjung-mengunjungi inilah ada tamu dan penerima tamu.
Adapun memuliakan tamu merupakan salah satu bentuk akhlak memelihara silaturahim. Dalam hal memuliakan tamu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Tamu Kita
Di dalam Himpunan Putusan Tarjih 3 (2018:456) dijelaskan perilaku menerima tamu sebagai berikut:
- menjawab salam tamu yang datang;
- menerima tamu dengan ramah dan menghormatinya sesuai dengan usia dan kedudukannya, tanpa membedakan baik status sosial, jenis kelamin, ras maupun agama;
- jika ada tamu atau siapa saja yang datang, hendaklah berdiri sebentar, bersalaman, berkenalan, kemudian duduk kembali;
- menanggapi keperluan tamu dengan cara-cara yang menyenangkan;
- mengantar tamu sampai ke pintu atau sampai ke halaman, jika berkendaraan, antarlah sampai ke kendaraannya apabila mau pulang;
- meminta maaf jika ada kekurangan dalam penerimaan atau menyampaikan ucapkan selamat jalan dan ucapan salam;
- menjaga kehormatan diri dan keluarga bila menerima tamu lain jenis yang bukan mahram.
Perilaku tersebut bersifat umum. Kita dapat menjabarkannya dengan merujuk pada Alquran dan Assunah. Dalam hal menjawab salam, kita merujuk pada firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala di dalam Alquran surat an-Nisaa (4): 86,
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya, Allah memperhitungkan segala sesuatu.”
Berdasarkan ayat tersebut, jika kita menjawab salam “Assalamu ‘alaikum”, jawaban yang diutamakan adalah (Wa) ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, sedangkan sekurang-kurangnya adalah (Wa) ‘ailaikumussalam.” Perhatikan! Bukan “Wa ‘alaikum salam”
Keramahan dapat diwujudkan dengan wajah dan gerak-gerik anggota tubuh. Wajah yang ramah ditandai dengan misalnya pandangan mata.
Pandangan mata keramahan berbeda dari pandangan mata kemarahan. Bentuk mulut ketika berbicara ramah berbeda dari bentuk mulut ketika berbicara marah.
Gerak-gerik anggota tubuh orang rendah hati berbeda dari gerak-gerik anggota tubuh orang tinggi hati. Menghormati tamu tanpa membedakan status sosial dapat kita wujudkan misalnya dengan menempatkannya di ruang tamu yang tertata rapi dan bersih.
Tidak kita bedakan tamu yang berstatus sosial tinggi kita tempatkan ruang tamu, sedangkan tamu yang berstatus sosial rendah di teras. Tentu saja, rombongan “pegowes” yang dalam keadaan berkeringat, dapat saja kita terima di teras atau di kebun yang sudah kita kondisikan kenyamanannya.
Mereka biasanya lebih memilih tempat yang demikian. Masih ada lagi. Jika tamu datang bersama anak balita (anak dan/cucu), kita pun menyambutnya dengan ramah. Kita ucapkan salam. Kita ajak bersalaman. Kita sapa.
Kalau belum/tidak mau, bahkan, belum mau masuk, kita tidak perlu memaksanya. Dalam keadaan demikian, ada orang tua yang berkata, “Yah, kok nakal, sih!” Tanggapi kata-kata itu dengan misalnya, “Nggak. Nggak nakal. Saleh.”
Sumber : republika.co.id






