Dampak Konflik Ukraina-Rusia, Picu Perang Dunia Ketiga Hingga Pengaruhi Ekonomi Global

Katakepri.com, Jakarta – Ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang semakin di ambang perang ternyata dianggap memiliki dampak bagi Indonesia.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono. menganggap konflik Ukraina dan Rusia saat ini menjadi tantangan kepemimpinan Indonesia di G20.

Menurutnya, akan menjadi tantangan sendiri memimpin kelompok besar yang saling “bermusuhan”.

“Pengaruh ke kita (Indonesia) bakal ada, konflik pecah di Ukraina akan berpengaruh pada ekonomi global. Dan bagi Indonesia, pengaruh besar ada pada pemimpin Indonesia di G20,” kata Muhadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (22/2).

G20 atau kelompok 20 merupakan forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa. Indonesia menjadi ketua G20 selama 2022.

Sementara itu, konflik antara Moskow dan Kiev tak hanya melibatkan Rusia dan Ukraina, tapi juga Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sebagian besar pihak yang berkonflik itu pun merupakan anggota G20.

Menurut Muhadi, kapabilitas kepemimpinan Indonesia di G20 menjadi perhitungan di situasi sekarang ini, terutama bagaimana memastikan negara-negara yang saling bermusuhan tak memengaruhi agenda G20 yang sudah dirancang.

“Bagaimana memastikan gajah yang berperang itu tak menginjak-injak rumput. Itu jadi tantangan sendiri,” lanjut Muhidi.

Ia kemudian berkata, “Sehingga bagaimana bisa memastikan agar rivalitas dan konflik itu tidak terbawa ke isu yang lain. Itu hal yang krusial. Dan kepemimpinan Indonesia akan sangat diuji di situ.”

Persoalan lain, kata dia, G20 tak fokus terkait keamanan dan politik, tapi juga membicarakan tatanan ekonomi global.

Muhidi juga menyinggung momen KTT G20 pada 2014 lalu. Saat itu, Australia menjadi ketuanya.

Dalam pertemuan puncak KTT G20 2014, Presiden Rusia, Vladimir Putin, meninggalkan forum (walk out).

Untuk menangani hal-hal semacam itu, Indonesia, lanjut dia, bisa menyuarakan keresahan konflik di kawasan Eropa Timur itu.

Selain itu, melalui G20 Indonesia juga diharapkan bisa membawa kerja sama di tatanan global menjadi lebih kondusif.

Sebab, menurut Muhadi, rivalitas antara Rusia-China dan Amerika Serikat tak akan berhenti di krisis Ukraina.

Sementara itu, Muhadi menyatakan dampak secara langsung atas krisis di Ukraina terhadap Indonesia memang tidak akan terasa. Namun, jika konflik Rusia dan Rusia meluas bahkan perang, ini bisa mempengaruhi perekonomian global yang akhirnya turut memengaruhi Indonesia.

Senada dengan Muhadi, pengamat dari Universitas Muhammadiyah Riau, Fahmi Salsabila, juga menyatakan hal serupa. Baginya, tak ada dampak signifikan secara langsung bagi Indonesia atas konflik Ukraina vs Rusia.

“Impact secara langsung tidak begitu berarti, namun jika ketegangan terus meningkat berdampak pada ekonomi dunia yang sedang dalam pemulihan akibat pandemi, begitu juga Indonesia akan terdampak karena juga sedang recovery dari dampak pandemi,” kata Fahmi.

Jika konflik semakin meluas sampai ada kontak senjata, bahkan Perang Dunia III akan berdampak pada bidang lain seperti alat utama sistem pertahanan dan gas alam.

“Pasokan suku cadang alutsista kita terganggu, perdagangan ekspor kita terganggu, naiknya harga minyak dan gas dunia” jelas Fahmi.

Krisis antara Ukraina dan Rusia bermula saat pemerintahan Putin mengerahkan ratusan ribu pasukan dan peralatan tempur ke perbatasan Ukraina sejak akhir 2021. Amerika Serikat dan para sekutunya saat itu meyakini Rusia akan melakukan invasi kapan saja ke Ukraina.

Hingga kini, Rusia menyatakan mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk, wilayah di timur Ukraina yang selama ini dikuasai separatis pro-Moskow.

Pengakuan Rusia itu memicu kecaman sederet pemimpin dunia. Inggris bahkan menganggap invasi Rusia ke Ukraina telah dimulai sejak Putin mengakui kemerdekaan Luhansk dan Donetsk.

Sebab, Putin turut menerjunkan pasukan Rusia ke dua wilayah separatis itu dengan mengklaim para personel yang dikerahkan merupakan pasukan penjaga perdamaian.

Namun, Amerika Serikat menganggap pengerahan pasukan penjaga perdamaian Rusia itu adalah omong kosong. Washington menganggap pasukan Rusia di Donetsk dan Luhansk dikerahkan guna melancarkan invasi. (Red)

Sumber : cnnindonesia