Katakepri.com, Tanjungpinang – Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang Fraksi Partai NasDem, Agus Chandra Wijaya menyoroti para pelaku pendidikan nonformal di Tanjungpinang.
Hal ini berkaitan dengan adanya 27 orang santri di Pondok Pesantren Al-Kautsar baru-baru ini yang terpapar Covid-19.
“Kami sungguh sangat prihatin dan menyayangkan hal tersebut bisa terjadi ditengah tingginya angka Covid-19 dan ditengah gencar-gencarnya pemerintah daerah menekan angka Covid-19 itu,” tutur Agus ketika dihubungi melalui sambungan WhatsApp, Selasa (22/06) pagi.
Agus menilai, seharusnya Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tanjungpinang lebih meningkatkan koordinasi serta pengawasannya terhadap tempat-tempat pendidikan nonformal di Kota ini.
“Karena Disdik sendiri kan ada bidang yang mengurusi pendidikan nonformal semacam itu. Sama seperti pendidikan formal, seharusnya pembelajaran tatap muka di tempat pendidikan nonformal itu jangan diizinkan dulu mengingat kondisi daerah kita yang masih tinggi angka Covid-19 nya,” ucap Agus.
Untuk para pelaku pendidikan nonformal sendiri seperti, pondok pesantren, taman pendidikan Al Quran, Bimbingan Belajar (Bimbel) dan berbagai jenis kursus hendaknya menurut Agus dapat mengerti dengan kondisi daerahnya saat ini.
“Tidak hanya pemerintah, para pelaku pendidikan nonformal dan orang tua juga harus bisa mengerti dengan keadaan daerah kita saat ini. Jangan seenaknya bertindak tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkan kedepan karena kalau sudah terpapar seperti 27 santri pondok pesantren Al-Kautsar itu bakal repot jadinya nanti,” ucapnya.
Sebagai mitra Disdik Kota Tanjungpinang, Agus pada situasi saat ini menyarankan para pelaku pendidikan nonformal di Tanjungpinang itu untuk tidak memberlakukan pembelajaran tatap muka terlebih dahulu sampai pemerintah daerah mengintruksikan mengizinkan pemberlakuan pembelajaran tatap muka bagi pendidikan formal di Tanjungpinang.
“Bukan bermaksud memotong rezeki ya, kita disini bersifat menjaga. Saya juga sebagai orang tua tidak ingin ada lagi anak-anak kita yang terpapar Covid-19,” ujar Agus.
Berdasarkan pantauan awak media ini dilapangan masih banyak para pelaku pendidikan nonformal di Tanjungpinang yang membuka jasa pendidikannya ditengah tingginya angka Covid-19 di Tanjungpinang. Bahkan tak jarang sebagian dari mereka berani membuka pelayanan pembelajaran tatap muka untuk anak usia SD dan SMP. (Angga)






