Puasa Syawal 6 Hari dan Keistimewaannya

Katakepri.com, Jakarta – Niat puasa Syawal tentunya berbeda dengan puasa Ramadhan. Selain lafal niat yang berbeda, hukumnya pun tentu berbeda.

Mengutip dari buku Yang Harus Diketahui dari Puasa Syawal karangan Ahmad Zarkasih, Imam Malik di Madinah, hukum puasa Syawal adalah makruh. Hal ini berbeda pendapat dengan ulama al-Hanafiyah, al-Syafi’iyah, dan al-Hanabila yang berpendapat bahwa hukumnya sunnah.

Terlepas dari hukum puasa Syawal, detikers yang ingin melaksanakan puasa sunnah ini sebaiknya bisa melafalkan bacaan niat puasa Syawal dalam bahasa Arab, latin, serta artinya.

Niat Puasa Syawal:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shouma ghodin ‘an sittatin min syawwaalinn sunnatan lillaahi ta’aalaa

Artinya: Aku berniat puasa besok dari enam hari Syawal, sunnah karena Allah Ta’ala.

  • Jadwal Pelaksanaan Puasa Syawal

Setelah mengetahui bacaan niat puasa Syawal, maka mulai kapankah kita bisa mulai melaksanakannya?

Puasa Syawal ini bisa dimulai sejak hari kedua atau H+1 hari raya Idul Fitri, yang tepatnya mulai tanggal 2 Syawal.

Dikutip dari Arab News, puasa Syawal harus dilakukan secepat mungkin bagi setiap Muslim yang mampu. Namun, bagi wanita sebaiknya menyelesaikan utang puasa lebih dulu, baru kemudian melakukan puasa Syawal.

Selain itu, umat Muslim juga tidak hari melakukannya selama 6 hari berturut-turut secara langsung. Puasa Syawal ini boleh dilakukan secara terpisah, asalkan masih dalam bulan Syawal, bergantung pada kondisi tiap orang.

Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Thawban,

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْحَارِثِ الذِّمَارِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أَسْمَاءَ الرَّحَبِيَّ، عَنْ ثَوْبَانَ، مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ أَنَّهُ قَالَ ‏”‏ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ

Artinya: Seperti dinarasikan dari Thawban, seorang budak yang dibebaskan Rasulullah, Nabi SAW berkata, “Siapa saja yang puasa enam hari setelah Idul Fitri akan berpuasa selama satu tahun tersebut, dengan satu kebaikan dihargai 10 kebaikan serupa.” (HR Ibnu Majah).

An Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab mengatakan sebagai berikut,

“Fuqoha’ kami menyatakan, dianjurkan berpuasa enam hari bulan Syawal secara berturut-turut di awal bulan Syawal. Namun jika dilakukan secara terpisah atau tidak dilakukan di awal Syawal tidaklah mengapa dan sudah teranggap melakukan sunnah ini karena keumuman makna hadis dan kemutlakannya. Tidak ada perbedaan pendapat di antara kami dalam masalah ini. Pendapat senada juga dinyatakan oleh imam Ahmad dan Daud.”

  • Keutamaan Puasa Syawal

Puasa Syawal juga punya keutamaan yang istimewa karena berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal, hitungannya sama dengan berpuasa seperti setahun penuh.

Keutamaan puasa Syawal tertuang dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

“Barang siapa yang berpuasa ramadhan
kemudian berpuasa 6 hari di bulan Syawal, maka
baginya (ganjaran) puasa selama setahu penuh”
(HR Muslim).

Kembali melansir dari buku ‘Yang Harus Diketahui dari Puasa Syawal’, keistimewaan berpuasa seperti setahun penuh ini kemungkinan dikarenakan usia umat Nabi Muhammad SAW yang pendek-pendek. Sehingga, Allah SWT memberi rahmat dalam hal melipatgandakan pahala yang didapatkan. (Red)

Sumber : detik.com